Setahun bersamamu

5 10 2009

Tidak terasa ya Nak sudah setahun kita bersama (kalo dengan Bunda udah setahun + almost 10 bulan). Yara sudah semakin besar,  sudah banyak kabisa.

Yara sudah bisa:

  1. Merangkaknya dah cepet
  2. Seudah bisa rambatan sambil megang sofa & dinding
  3. Suka main ke dapur sekarang, kalo ada yang lagi didapur pasti kepengen ikutan ;) ))
  4. Sudah semakin tinggi tapi kok ga gemuk2 ya Nak. Susah banget ndutnya. Tapi ga apa2 deh, segini aja dah ngegemesin apalagi kalo ndut ya, cukup 1 orang aja yang dipanggil Ndut oleh ayah ;P. Ada hikmahnya juga Yara ga terlalu gemuk, abis maunya digendong mulu.
  5. Mulai belajar jalan ambil ditatah. Tapi kadang Yaranya masih suka males2an kecuali kalo ada yang dituju jalannya bisa cepet & semangat.
  6. Yara belum bisa berdiri sendiri hanya sepersekian detik langsung jatuh lagi. Tapi tetap semangat ya Nak.
  7. Amazingly, Yara dah bisa turun dan naik sendiri ke tempat tidur. Ngajarinnya cuma sekali. Kita cuman bilang kalo mo turun kaki dulu trus pegangan, begitu di praktekin Yara langsung bisa. HEBAT KAMU NAK
  8. Sudah bisa naik turun, sekarang apapun yang bisa dinaikin, kalo Yara bisa pasti dinaikin, ga kenal takut. Kita yang takut dianya jatuh. Hehehehe.
  9. Sudah cerewet banget walaupun belum jelas. Kata2 yang udah jelas & fasih hanya MAM & PAPA. Kadang terdengar WOW, MINUM, NENEK.
  10. Sudah bisa membolak-balik buku & megang dengan bener. Trus sudah bertingkah laku seolah-olah bisa baca. Sambil megang buku sambil ngoceh sendiri kayak yang baca. Memang membiasakan Yara cinta buku dari kecil. Bunda sudah mulai kumpul2 buku buat Yara.
  11. Yara paling betah main di mobil.
  12. Yara suka sekali lagu The Dance Company – Papa Rock n Roll. Kalo kita setelin lagunya di hp, hp-nya langsung direbut Yara lalu hpnya digoyang2 sambil Yaranya juga goyang sambil bersenandung ;p. Pas nyampe di kalimat yang ada PAPAnya kadang Yara bisa ngikutin ;) )))
  13. Makannya dah banyak dan ga pake piring makan bayi lagi, dan pake mangkok beling or piring beling.
  14. Dah diajarin minum abis makan pake gelas. Airnya diisi sedikit2 aja kalo ga pasti airnya dimainin Yara, tangannya masuk ke gelas
  15. Makannya udah mulai beragam, dah mulai dikasih ikan ama telur ayam kampung. Trus mulai umur setahun dah minum chilmill murni ga dicampur ama NAN-HA lagi
  16. Yara doyan banget ama air putih dan air klorofil.
  17. Sekarang kita selalu menyediakan 3 jenis minuman, susu, air putih, air klorofil. Biar Yara yang milih mau minum yang mana, karena Yara dah bisa nunjuk mana yang dia mau. Kadang Yara ambil sendiri dari atas tempat tidur.
  18. Sekarang kalo abis mandi pake berantem dulu untuk dipakaiin pampers & baju, sudah dialihkan perhatian tapi kadang suseh banget pengennya langsung bangun. Perlu usaha keras hehehe, kasian juga neneknya yang mesti usaha keras biar Yara mau tenang
  19. Yara senang sekali melihat lampu. Apalagi kalo model lampunya aneh2 belum pernah lihat ditempat lain, Yara langsung tunjuk
  20. Tidurnya masih motah. Masih ada bangunnya tengah malam untuk minum susu
  21. Jam tidur malam sudah mulai teratur dah jarang tidur malam banget, rata2 jam 9 or 10 dah tidur. tapi tidur siang kadang agak susah maunya main mulu. Padahal dah minum susu dah teler2, susu abiz Yaranya zeger lagi ;p
  22. Yara dah bisa dadah & tos, tapi untuk salim masih susah paling pegang tangan doank tapi belum bisa cium tangan
  23. Kalo denger suara motor ayah atau mobil dimalam hari & Yaranya dah ngantuk2 langsung mendadak bangun & ribut hehehe
  24. Baby walkernya dah ga laku ;) ))))))




Menulis lagi

5 10 2009

Setelah sekian lama meninggalkan acara tulis menulis … Ayo dimulai lagi … Semangat.





Photo0134

11 08 2009

Posted by ShoZu





Photo0138

11 08 2009

Posted by ShoZu





Sekelumit cerita untuk jadi pelajaran

16 03 2009

baby-hand1

Untuk Yara tercinta:

Nak, sampai Yara bisa membaca cerita ini, Yara mesti tau, Ayah dan Bunda tidak akan pernah menggunakan tangan kami untuk “memberikan pelajaran (memukul)” untuk Yara.

Tangan kami hanya untuk membimbing kamu Nak, supaya jadi anak yang baik, pintar, cantik dan shalehah.

Ayah dan Bunda sayang Yara.

_________________________________________________________

Entah sudah berapa kali aku menerima kiriman email berisi cerita berikut ini. Namun setiap kali aku membacanya, air mata ini tak terasa selalu berlinang. Semoga bisa jadi nasehat bagiku, dalam mendidik anak ku. Berikut ceritanya….. Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah. Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, ‘Kerjaan siapa ini !!!’ …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.’ ‘Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?’ hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata ‘DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!’ katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. ‘Oleskan obat saja!’ jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. ‘Dita demam, Bu’…jawab pembantunya ringkas. ‘Kasih minum panadol aja ,’ jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. ‘Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap’ kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. ‘Tidak ada pilihan..’ kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…’Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah’ kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. ‘Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.’, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. ‘Dita juga sayang Mbok Narti..’ katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. ‘Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ‘ katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf… Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.. mg kita tetap dapat menjaga permata hati kita yang telah diamanahkan oleh Allah…. amien…